Redaksintb.com – Menyiapkan ribuan porsi makanan setiap hari menjadikan aspek keamanan dan kebersihan pangan sebagai prioritas utama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karang Bongkot. Dapur umum di bawah naungan Yayasan Batu Emas Kabupaten Lombok Barat ini mengambil langkah tegas untuk memperketat standar sanitasi demi mencegah risiko kontaminasi makanan.
Penerapan standar operasional yang ketat ini bukan tanpa alasan, mengingat SPPG Karang Bongkot bertanggung jawab melayani 2.615 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jangkauan sasaran tersebut tersebar di 22 institusi pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMPN 2 Labuapi, hingga tingkat SMA.
Wilayah distribusi program gizi ini mencakup empat desa strategis di Lombok Barat, yakni Desa Karang Bongkot, Perampuan Kuranji, Kuranji Dalang, dan Telaga Waru. Skala operasional yang masif ini menuntut pengawasan menyeluruh dari tahap penerimaan bahan baku hingga fase pengemasan hidangan.
Dalam proses pengolahan makanan porsi besar, kebersihan penjamah makanan (food handler) menjadi titik krusial yang diawasi ketat. Seluruh pekerja dapur diwajibkan menggunakan atribut perlindungan kerja secara lengkap, mulai dari penutup kepala, masker pelindung, apron khusus, hingga sarung tangan steril.
Penggunaan penutup kepala ditujukan untuk mencegah jatuhnya rambut dan kotoran ke dalam masakan, sementara masker efektif menekan risiko paparan droplet. Selain itu, sarung tangan steril diwajibkan untuk membatasi kontak langsung tangan dengan makanan matang serta wajib diganti secara berkala guna menghentikan potensi pemindahan mikroorganisme.
Pengawasan kualitas tidak berhenti pada kedisiplinan petugas dapur semata, tetapi juga menyasar penanganan bahan baku sejak awal penerimaan. Dengan volume produksi mencapai 2.615 porsi harian, bahan pangan segar dipastikan melalui proses pencucian menggunakan air bersih mengalir serta pemisahan tegas antara bahan mentah dan hidangan matang.
Selain itu, kontrol terhadap suhu memasak dipertahankan secara konsisten untuk membunuh bakteri berbahaya sekaligus menjaga kualitas gizi masakan. Langkah-langkah preventif ini vital untuk menekan risiko kontaminasi silang (cross-contamination) selama siklus pengolahan makanan berlangsung di dalam dapur.
Konsistensi penerapan standar kebersihan ini menjadi fondasi utama pelaksanaan program MBG di wilayah Lombok Barat. Pengelola SPPG Karang Bongkot berkomitmen bahwa penyediaan makanan gratis tidak hanya berfokus pada ketepatan jumlah dan waktu distribusi, tetapi juga menjamin kebersihan, keamanan, dan kelaikan konsumsi bagi ribuan pelajar.


Komentar