Redaksintb.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa sebaran titik panas (hotspot) akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih membara di wilayah Indonesia. Berdasarkan pantauan pemetaan bencana, sebaran hotspot tersebut terdeteksi terkonsentrasi di enam provinsi prioritas yang tersebar di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, mengungkapkan enam wilayah terdampak meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Dari seluruh daerah tersebut, konsentrasi titik panas tertinggi tercatat berada di Kalimantan Tengah, disusul Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, serta Kalimantan Selatan.
Pihak BNPB menegaskan bahwa tidak semua titik panas yang terdeteksi satelit secara otomatis merupakan titik api (fire spot). Oleh karena itu, tim gabungan di lapangan terus melakukan verifikasi fakta secara berkala agar setiap temuan api bisa langsung ditangani sebelum meluas dan memicu kepulan asap pekat.
Penanganan di lapangan diakui menghadapi berbagai tantangan alam yang tidak mudah dan sangat dinamis. Petugas kerap kesulitan melakukan pendinginan area pasca-pemadaman, terutama pada karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan serta lokasinya yang terisolasi dari akses darat.
Merespons ancaman tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengambil langkah taktis melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah penyemaian awan ini digencarkan di titik-titik rawan untuk memicu hujan buatan guna mengoptimalkan proses pemadaman api di darat.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC bergantung penuh pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial. Pihaknya menegaskan teknologi modifikasi cuaca tidak menciptakan hujan dari udara yang kering, melainkan merekayasa sistem awan yang sudah tersedia agar lebih cepat menurunkan hujan.
Keberhasilan operasi penyemaian ini dipengaruhi oleh dinamika cuaca yang dianalisis secara real-time menggunakan satelit, radar cuaca, dan pengamatan udara atas. Apabila kelembapan, profil suhu, serta arah angin mendukung, maka potensi hujan buatan di wilayah sasaran dapat dipicu secara optimal dan efektif.
Strategi modifikasi cuaca ini disinergikan sebagai bagian dari penanganan Karhutla terpadu secara nasional. BMKG bersama BNPB terus memadukan operasi udara ini dengan tim pemadam darat serta langkah mitigasi berkelanjutan demi mencegah dampak bencana asap yang lebih luas.


Komentar