Ekonomi NTB
Beranda / NTB / Resmi Jadi Kota Siaga Stroke Kedua di Indonesia, Mataram Raih Penghargaan Internasional WSO

Resmi Jadi Kota Siaga Stroke Kedua di Indonesia, Mataram Raih Penghargaan Internasional WSO

Redaksintb.com – Kota Mataram resmi mengukuhkan diri sebagai daerah dengan sistem penanganan penanganan stroke yang siap dan terintegrasi secara global. Mataram dinobatkan sebagai Kota Siaga Stroke (Angels Region) kedua di Indonesia oleh ANGELS Initiative yang didukung langsung oleh World Stroke Organization (WSO).

Penghargaan internasional ini secara simbolis diserahkan usai upacara peringatan HUT ke-33 Kota Mataram kepada Wali Kota Mataram Mohan Roliskana. Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. Ni Ketut Eka Nurhayati, menjelaskan bahwa predikat ini merupakan hasil komulatif atas kesiapan rumah sakit, respons ambulans kegawatdaruratan (PSC), serta tingginya kesadaran masyarakat.

Team Leader ANGELS untuk Indonesia, Rika Aprijanti Hutagalung, menerangkan bahwa untuk menjadi sebuah Angels Region, suatu daerah harus memenuhi tiga kriteria utama secara simultan. Rumah sakit harus siap menangani stroke, armada ambulans dilatih mengenali gejala dengan cepat, dan kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini stroke telah meningkat.

Dalam penilaian tersebut, RSUD Ruslan mencatatkan performa klinis yang sangat kuat. Indikator angka reperfusi rumah sakit berada di atas 25 persen dan waktu tindakan door-to-needle berhasil ditekan di bawah 45 menit, yang membuktikan kecepatan serta efektivitas penanganan medis sejak pasien tiba di rumah sakit.

ANGELS Consultant wilayah Mataram, Jiddin Abdullah, menambahkan bahwa RSUD Ruslan bahkan telah berhasil meraih predikat Diamond Hospital. Tingkatan ini merupakan kriteria status tertinggi dalam sistem penilaian penatalaksanaan stroke WSO yang berlaku secara internasional di seluruh dunia.

Isi Percakapan 3 Masinis dengan Petugas Kendali Sebelum KA Anggrek Tabrak KR

Capaian tingkatan tertinggi tersebut mencerminkan penanganan stroke di RSUD Ruslan yang sudah sangat komprehensif dan terorganisasi. Layanan medis tidak hanya berfokus saat pasien tiba di rumah sakit, melainkan mencakup rantai penyelamatan utuh mulai dari pengenalan awal gejala, tindakan darurat, hingga tahapan rehabilitasi medis.

Kendati demikian, predikat Kota Siaga Stroke bukanlah status permanen yang bisa dipertahankan tanpa evaluasi. Sistem penilaian WSO melakukan audit berkala setiap tiga bulan sekali (per kuartal) untuk memantau konsistensi dan kualitas layanan kesehatan di daerah tersebut.

Menyusul langkah Kabupaten Sleman sebagai pelopor pertama, capaian Kota Mataram ini menjadi pemicu untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan publik. Penanganan cepat dan tepat targetnya bukan sekadar mengejar trofi, melainkan meminimalisir risiko kematian dan kecacatan permanen bagi para penderita stroke.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *