Redaksintb.com – Pemerintah Kota Mataram terus mendorong pemanfaatan lahan kosong di wilayah perkotaan menjadi kawasan produktif. Langkah strategis ini digalakkan sebagai upaya konkret memperkuat ketahanan pangan mandiri di tingkat keluarga sekaligus mendukung program pengendalian inflasi daerah, khususnya pada komoditas pemicu seperti cabai dan tomat.
Komitmen tersebut ditunjukkan langsung oleh Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana, bersama Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj Kinnastri Mohan Roliskana, saat meninjau hasil budidaya cabai dan tomat di lahan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Dinas Pertanian Kota Mataram. Mohan memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif jajaran Dinas Pertanian yang mampu mengoptimalkan lahan tidur di sekitar lingkungan kantornya.
Wali Kota menggarisbawahi bahwa kesuksesan budidaya cabai di lahan BPP ini terbilang istimewa karena dikembangkan secara mandiri (non-budget). Proyek pangan produktif tersebut murni mengandalkan ketekunan, konsistensi, serta swadaya jajaran penyuluh pertanian tanpa membebani anggaran belanja daerah secara khusus.
“Ini pemanfaatan lahan kosong yang sangat baik. Saya lihat karena ketekunan dan konsistensi, hasilnya bisa kelihatan nyata dan produktif,” ujar Mohan di sela-sela peninjauan lapangan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Kota Mataram, Kinnastri Mohan Roliskana, menilai keberadaan BPP tidak hanya berfungsi sebagai lahan percontohan, melainkan juga pusat pembibitan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT). Keberadaan stok bibit yang memadai sangat vital untuk menjaga regenerasi tanaman di 76 KWT yang tersebar di seluruh wilayah Kota Mataram.
Kinnastri mengapresiasi peran aktif para penyuluh pertanian yang tak lelah memberikan pendampingan teknis kepada KWT di tingkat kelurahan. Menurutnya, jika ketahanan pangan keluarga secara mandiri dapat diterapkan secara merata oleh warga, maka kemandirian pangan Kota Mataram secara menyeluruh akan makin mudah terwujud.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Johari, menjelaskan bahwa proses penanaman cabai di BPP telah dimulai sejak pertengahan Mei 2026 lalu. Memasuki awal September, tanaman holtikultura tersebut telah masuk dalam fase produksi puncak dan siap dipanen secara rutin.
Pola budidaya cabai di lahan BPP ini menerapkan metode penanaman bertahap dengan memanfaatkan sumber daya swadaya yang ada. Metode siklus ini sengaja dirancang agar masa panen tidak berlangsung bersamaan, melainkan berkelanjutan dalam tiga tahapan berbeda guna menjaga ketersediaan pasokan cabai segar di BPP.


Komentar