Redaksintb.com – Gunung Anak Krakatau yang berada di Perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Selasa (8/9) siang. Kendati demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa aktivitas kegempaan gunung api tersebut mulai menunjukkan tren penurunan dibandingkan erupsi menerus beberapa hari sebelumnya.
Berdasarkan data resmi PVMBG, letusan tercatat terjadi pada pukul 11.34 WIB. Erupsi tersebut terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 50 mm hingga 55 mm dan berdurasi relatif singkat, yakni sekitar 17 detik.
Meskipun aktivitas erupsi masih berlangsung, PVMBG memastikan frekuensi dan intensitasnya tidak sedahsyat erupsi yang terjadi pada 4 dan 5 September lalu. Tren penurunan kegempaan ini menandakan adanya penurunan tekanan energi dari dalam kawah gunung api tersebut.
Secara pengamatan visual, tinggi kolom abu atau hembusan dari puncak kawah tidak teramati secara jelas di lapangan. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca dan kabut tebal yang kerap menyelimuti area puncak gunung api tersebut.
Hingga saat ini, status tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III (Siaga). PVMBG terus memantau perkembangan deformasi dan parameter kegempaan secara berkala selama 24 jam.
Seiring dengan status Level III tersebut, otoritas terkait mengimbau masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan untuk tidak mendekati area gunung. Larangan beraktivitas diberlakukan dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan pesisir Selat Sunda juga diminta untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu hoaks yang beredar. PVMBG mengingatkan agar warga senantiasa memantau informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dari kanal terpercaya.
Langkah antisipasi seperti penggunaan masker juga disarankan bagi warga jika terjadi sebaran abu vulkanik tipis di sekitar wilayah terdampak guna mencegah gangguan pernapasan. PVMBG bersama pihak terkait dipastikan akan terus memberikan laporan berkala terkait perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau.


Komentar