Redaksintb.com – Suara ledakan keras mengguncang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu pagi waktu setempat, tak lama setelah otoritas keselamatan Kerajaan mengeluarkan peringatan darurat terkait ancaman serangan udara. Insiden ini menandai pertama kalinya wilayah ibu kota terpapar dampak secara langsung sejak konfrontasi militer di negara tetangga, Yaman, kembali memanas secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Warga dan penduduk di Riyadh menerima notifikasi resmi pada telepon genggam mereka yang mengonfirmasi bahwa wilayah ibu kota berada di bawah ancaman udara musuh. Situasi mencekam ini memicu kewaspadaan tinggi di tengah kekhawatiran meluasnya bentrokan bersenjata antara pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang disokong oleh Iran.
Peringatan bahaya dan dentuman ledakan tersebut menyulut respons keras dari pihak Houthi. Kelompok tersebut mengklaim bahwa tindakan mereka merupakan balasan atas gempuran udara intensif yang dilancarkan Arab Saudi, di mana sedikitnya 26 serangan udara menghantam wilayah kekuasaan Houthi dalam waktu 24 jam terakhir. Dalam kurun seminggu terakhir saja, Houthi mencatat lebih dari 300 kali serangan udara menghujani daerah-daerah kunci di Yaman.
Konflik bersenjata yang awalnya meletus sejak tahun 2014—saat Houthi berhasil menguasai ibu kota Sanaa—sebenarnya sempat mereda dan memasuki periode gencatan senjata relatif sejak tahun 2022. Namun, eskalasi militer kembali membara secara drastis sejak Juli lalu, menghancurkan prospek perdamaian yang sempat diupayakan oleh berbagai pihak internasional.
Langkah ofensif Houthi kian agresif dalam beberapa pekan terakhir setelah mereka melancarkan serangan kilat dan berhasil menguasai seluruh garis pantai Laut Merah wilayah Yaman. Penguasaan ini memberikan kelompok tersebut kendali strategis atas Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran internasional paling krusial di dunia bagi perdagangan energi dan barang global.
Memanfaatkan posisi geografis tersebut, Houthi secara resmi mengumumkan pemblokadean jalur maritim khusus bagi kapal-kapal milik Arab Saudi. Pihak Houthi menegaskan bahwa navigasi di selat tersebut tetap dibuka aman bagi negara lain, namun tertutup rapat bagi armada Kerajaan yang berusaha mengalihkan rute ekspor minyak akibat penutupan Selat Hormuz di tengah krisis kawasan yang kian meluas.
Dampak kemanusiaan dari memanasnya pertempuran ini tergolong sangat parah dan memprihatinkan. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa bentrokan terbaru telah memaksa lebih dari 112.000 warga sipil mengungsi dari rumah mereka, sementara ribuan lainnya nekat menyeberangi laut menuju Djibouti demi menyelamatkan diri dari ancaman bahaya perang.
PBB memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Yaman kini berada pada titik yang sangat kritis, di mana belasan juta jiwa berjuang mengatasi krisis pangan akut dan jutaan lainnya terancam kelaparan ekstrem. Eskalasi konflik terbaru yang merembet hingga ke jantung ibu kota Arab Saudi ini diprediksi akan semakin memperkeruh peta politik dan stabilitas keamanan di seluruh kawasan Middle East.


Komentar