Redaksintb.com – Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah mengambil alih kontrol penuh atas Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Terusan Suez. Penguasaan atas titik cekik (chokepoint) maritim ini berpotensi memicu guncangan hebat pada stabilitas jalur perdagangan dan pasokan energi global.
Juru bicara militer Houthi menyatakan bahwa tindakan penguasaan selat tersebut dilakukan sebagai langkah taktis untuk memperketat blokade terhadap armada kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel dan sekutunya. Pihaknya menegaskan akan terus mencegat serta menindak tegas setiap kapal komersial yang nekat melintasi wilayah perairan hukum Yaman tanpa izin.
Selat Bab al-Mandeb merupakan alur pelayaran yang sangat vital bagi perekonomian dunia, di mana sekitar 12 persen dari total perdagangan maritim global dan jutaan barel minyak mentah melintasinya setiap hari. Penutupan atau kendali sepihak atas koridor ini diprediksi bakal memicu lonjakan harga komoditas serta biaya logistik internasional secara signifikan.
Penguasaan jalur pelayaran strategis oleh Houthi ini memicu kepanikan di kalangan industri pelayaran internasional. Sejumlah perusahaan pelayaran raksasa dunia mulai menginstruksikan armada kapal kargo mereka untuk mengalihkan rute pelayaran memutari Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang memakan waktu dan biaya operasional jauh lebih besar.
Sikap tegas Houthi ini langsung memicu reaksi keras dari Amerika Serikat dan koalisi sekutu internasionalnya. Washington mengecam aksi pendudukan selat tersebut sebagai tindakan ilegal yang mengancam kebebasan navigasi internasional (freedom of navigation) serta melanggar hukum laut internasional.
Meskipun ancaman operasi militer balasan dari kekuatan barat kian membayang, pihak Houthi menegaskan tidak akan mundur dan siap menghadapi segala bentuk konfrontasi fisik. Mereka menyatakan bahwa operasional pengawasan di Selat Bab al-Mandeb akan tetap dipertahankan hingga tuntutan penghentian konflik di kawasan Selat Gaza terpenuhi.
Dewan Keamanan PBB dan berbagai lembaga maritim dunia mendesak dilakukannya upaya diplomasi darurat guna mencegah penutupan total selat tersebut. Gangguan berkelanjutan pada Selat Bab al-Mandeb dikhawatirkan dapat memicu krisis rantai pasok global yang melumpuhkan distribusi barang di Eropa dan Asia.
Eskalasi di perairan Yaman ini menandai babak baru ketegangan geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah. Komunitas internasional kini terus mengamati pergerakan militer di sekitar Selat Bab al-Mandeb sambil menguji efektivitas skema pengamanan maritim guna memulihkan kelancaran arus perdagangan dunia.


Komentar