Redaksintb.com – Sebuah kisah pilu yang menjadi peringatan keras bagi publik kembali terjadi akibat maraknya kejahatan siber berbasis teknologi terkini. Seorang wanita paruh baya mendatangi Bandara Internasional Don Mueang di Bangkok, Thailand, dengan keyakinan penuh akan bertemu dengan kekasih impiannya yang mengaku bekerja sebagai pilot maskapai penerbangan ternama.
Wanita tersebut rela menempuh perjalanan jauh ke bandara setelah menjalin hubungan asmara secara daring (romance scam) selama beberapa waktu. Sosok pria yang dicintainya itu kerap mengirimkan foto-foto tampan berseragam pilot serta rekaman suara manis yang memikat hati, tanpa menyadari bahwa seluruh identitas dan materi visual tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kecurigaan mulai menyeruak ketika sang “pilot” memberi kabar bahwa dirinya telah mendarat di bandara namun tertahan oleh pihak berwenang. Pelaku meminta wanita tersebut segera mentransfer sejumlah uang dalam jumlah besar dengan dalih pembayaran denda pabean dan biaya administrasi darurat agar ia bisa segera keluar menyapa sang kekasih.
Dilanda kecemasan dan kebingungan, wanita tersebut mendatangi pos polisi dan pusat informasi Bandara Don Mueang untuk meminta bantuan petugas. Dengan menunjukkan bukti percakapan serta foto kekasihnya, ia berharap pihak keamanan bandara dapat membantunya menyelesaikan kendala administratif yang dialami sang pacar.
Petugas kepolisian bandara yang menerima aduan tersebut dengan cepat menyadari adanya kejanggalan pada berkas dan foto yang ditunjukkan. Setelah dilakukan verifikasi sistem penerbangan dan pemeriksaan forensik digital sederhana, polisi mengonfirmasi bahwa sosok pilot tersebut fiktif dan foto-foto yang digunakan dibuat menggunakan program pembangkit gambar berbasis AI.
Mengetahui fakta bahwa dirinya menjadi target penipuan asmara, wanita itu sempat syok dan terharu begitu menyadari situasi sebenarnya. Beruntung, kewaspadaan petugas bandara berhasil mencegah wanita tersebut mengirimkan uang tabungannya kepada jaringan penipu siber yang beroperasi di balik identitas buatan tersebut.
Kepolisian setempat mengimbau masyarakat untuk kian waspada terhadap modus romance scam yang kini memanfaatkan kecanggihan AI untuk menciptakan sosok, wajah, hingga suara rekayasa yang sangat mirip dengan manusia asli. Penipu acap kali memanfaatkan manipulasi emosional dan profil pekerjaan bergengsi seperti pilot atau tentara untuk memikat para korbannya.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya verifikasi fakta sebelum melibatkan perasaan dan finansial dalam hubungan dunia maya. Pihak kepolisian menegaskan tidak akan ragu menindak tegas jaringan kejahatan siber yang memanfaatkan kelemahan emosional masyarakat demi meraih keuntungan pribadi.


Komentar