Redaksintb.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan sorotan tajam terhadap masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia. Dalam keterangan resminya, Menkes menyoroti bahwa salah satu faktor krusial yang berkontribusi nyata terhadap tingginya angka fatalitas tersebut adalah masih maraknya kasus infeksi yang didapat di fasilitas pelayanan kesehatan atau rumah sakit.
Menkes mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap tata kelola pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan yang dinilai belum optimal secara merata. Risiko terjadinya infeksi nosokomial atau infeksi pasca-persalinan di rumah sakit dipandang sebagai ancaman serius yang seharusnya dapat dicegah apabila standar higienis dan prosedur medis penanganan persalinan dijalankan secara ketat.
Masalah infeksi ini melengkapi kompleksitas penyebab utama kematian ibu di Indonesia yang selama ini didominasi oleh pendarahan hebat dan hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia). Menurut Menkes, apabila infeksi pasca-melahirkan (sepsis) terjadi di saat kondisi fisik ibu lemah akibat pendarahan, risiko fatalitas akan meningkat drastis dalam hitungan jam.
Sementara itu, pada kasus kematian bayi, infeksi neonatal serta kondisi bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan asfiksia masih menjadi tantangan mendasar dalam dunia medis tanah air. Lingkungan perawatan medis yang kurang steril saat proses penanganan melahirkan menjadi celah masuknya kuman dan bakteri berbahaya bagi bayi yang baru lahir.
Guna mengatasi persoalan ini, Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk memperketat pengawasan serta audit standar operasional prosedur (SOP) sanitasi dan sterilisasi di seluruh rumah sakit maupun puskesmas. Rumah sakit diimbau tidak hanya berfokus pada kelengkapan peralatan medis modern, tetapi juga wajib menjamin kebersihan lingkungan dan pencegahan rantai infeksi.
Selain pembenahan internal fasilitas kesehatan, pemerintah juga terus mendorong percepatan integrasi layanan kesehatan primer di tingkat masyarakat. Penguatan pemantauan kesehatan ibu hamil melalui pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) secara rutin minimal enam kali selama masa kehamilan menjadi fokus utama untuk mendeteksi potensi risiko medis sejak dini.
Upaya penanganan AKI dan AKB ini juga dibarengi dengan langkah modernisasi alat kesehatan, seperti penyediaan alat Ultrasonografi (USG) di seluruh Puskesmas di Indonesia serta peningkatan kompetensi bidan dan dokter umum. Kemenkes berharap langkah konkrit ini dapat meminimalkan rujukan darurat yang terlambat serta menekan tingkat infeksi di fasilitas kesehatan.
Menkes menegaskan bahwa penurunan angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator utama keberhasilan transformasi layanan kesehatan nasional. Kesadaran serta komitmen bersama dari pengelola rumah sakit, tenaga medis, dan masyarakat luas sangat dibutuhkan agar target penurunan AKI dan AKB dapat tercapai secara signifikan demi mencetak generasi masa depan Indonesia yang sehat.


Komentar