Redaksintb.com – Guncangan gempa susulan yang masih terus melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin memperpanjang trauma warga di pengungsian. Pada Kamis (20/8), guncangan susulan berkekuatan cukup besar kembali memicu rontoknya plafon rumah dan tumbangnya tiang-tiang di tepi jalan, memaksa ribuan warga untuk terus bertahan di tenda-tenda darurat maupun wilayah perbukitan.
Kondisi mencekam di lapangan dirasakan langsung oleh seniman sekaligus aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa, Chiki Fawzi, saat menyalurkan bantuan di Dusun Ronting, Kabupaten Manggarai Timur. Menurut Chiki, getaran gempa yang terjadi berulang kali tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga memicu gangguan kesehatan psikologis dan fisik warga, seperti hipertensi dan sakit pinggang akibat panik berlarian mencari tempat aman.
Mayoritas warga yang menetap di lokasi pengungsian pedesaan didominasi oleh lansia dan anak-anak, mengingat sebagian besar generasi muda produktif merantau ke luar daerah. Selain pasokan sembako yang terbatas akibat lumpuhnya pasar lokal, distribusi logistik medis dan makanan siap santap masih menemui kendala jarak serta terbatasnya operasional jalur transportasi darat maupun udara di sekitar lokasi bencana.
Guna menanggulangi krisis pangan pengungsi, Baznas Tanggap Bencana (BTB) mendirikan delapan titik dapur darurat yang tersebar di beberapa lokasi, seperti Kabupaten Nagekeo dan Ngada. Koordinator Penyelamatan BTB, Taufiq Hidayat, mengungkapkan bahwa tiap dapur umum difokuskan memproduksi hingga 1.000 porsi makanan harian demi memenuhi kebutuhan warga yang masih enggan kembali ke rumah karena dibayangi isu tsunami dan potensi gempa susulan ber-Magnitudo 6.
Ketua Baznas Sodik Mudjahid mencatat, total alokasi bantuan kemanusiaan yang dikucurkan pihaknya untuk penanganan dampak gempa Flores NTT sejauh ini telah mencapai sekitar Rp6 miliar. Dana tersebut diprioritaskan untuk pemenuhan pangan, penyiapan sarana sanitasi darurat, pendampingan kesehatan, serta ruang ramah ibu dan anak di sekitar area tenda pengungsian.
Di sisi lain, besarnya dampak bencana memicu simpati internasional melalui aliran tawaran bantuan medis dan logistik dari pelbagai negara sahabat, termasuk Iran, Tiongkok, hingga Singapura. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Kemlu Tiongkok secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan tim medis serta bantuan darurat guna mendukung pemulihan Indonesia.
Kendati demikian, Pemerintah Republik Indonesia menegaskan bahwa penanganan darurat dan penanggulangan pascabencana di Flores saat ini masih dapat diatasi secara mandiri. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa seluruh pemenuhan kebutuhan pengungsi akan difokuskan menggunakan optimasi kapasitas serta alokasi sumber daya nasional yang dimiliki.
Aksi gotong royong seluruh elemen masyarakat dan lembaga kemanusiaan dalam negeri terus dipacu untuk menembus titik-titik terisolir. Pemerintah bersama tim relawan di lapangan berkomitmen memprioritaskan keselamatan warga, pemulihan traumatik anak-anak, serta pemenuhan kebutuhan pokok hingga situasi seismik di NTT kembali stabil.


Komentar