Redaksintb.com – Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa mulai membawa dampak nyata bagi kondisi sumber daya air permukaan. Debit air di Sungai Cisadane, yang menjadi salah satu tulang punggung pasokan air baku di wilayah Tangerang dan sekitarnya, dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga menyebabkan beberapa bagian dasar sungai tampak meluas dan mengering.
Berdasarkan pantauan di sepanjang aliran Sungai Cisadane, penurunan TMA (Tinggi Muka Air) terlihat jelas pada struktur pintu air dan tiang-tiang jembatan yang melintasi sungai tersebut. Garis bekas surutnya air membendung penanda nyata bahwasanya volume air yang mengalir dari hulu ke hilir berada jauh di bawah ambang batas normal jika dibandingkan dengan masa musim penghujan.
Menyusutnya aliran sungai ini mengubah lanskap pemandangan di sekitar bantaran Cisadane secara signifikan. Di beberapa titik yang dangkal, endapan lumpur, batuan dasar sungai, serta daratan-daratan kecil (gosong sungai) kini tampak menyembul ke permukaan, membatasi ruang gerak aliran air yang tersisa di bagian tengah bentangan sungai.
Penurunan debit air ini memicu kekhawatiran mendalam terkait keberlangsungan pasokan air baku bagi masyarakat setempat. Sungai Cisadane selama ini menjadi tumpuan utama bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk diolah dan didistribusikan menjadi air bersih bagi kebutuhan ribuan rumah tangga, fasilitas publik, serta sektor industri di Kota maupun Kabupaten Tangerang.
Pihak pengelola pintu air dan instansi terkait terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap fluktuasi debit air secara berkala. Langkah-langkah rekayasa pengaturan pintu air diterapkan guna menjaga ketersediaan cadangan air di area intake pengolahan, agar proses produksi air bersih bagi masyarakat tidak mengalami gangguan yang fatal.
Selain berdampak pada pasokan air bersih, kondisi surutnya Sungai Cisadane turut memengaruhi aktivitas ekonomi warga sekitar yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan darat dan jasa transportasi air lokal. Sejumlah nelayan tradisional mengaku harus melaut lebih jauh ke bagian tengah atau menunda aktivitas penangkapan ikan akibat dangkalnya perairan yang menyulitkan pergerakan perahu mereka.
Di sisi lain, tumpukan sampah plastik dan limbah rumah tangga yang sebelumnya tenggelam kini mulai terlihat jelas di tepi-tepi sungai yang mengering. Kondisi ini memperihatinkan sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sungai, terutama saat debit air berada pada titik terendah agar tidak memicu masalah sanitasi baru.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari guna mengantisipasi potensi puncak musim kemarau. Kerja sama masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem sungai dan menggunakan air secara bijak diharapkan mampu meminimalkan dampak krisis air di wilayah Tangerang dan sekitarnya.


Komentar