Berita Nasional
Beranda / Nasional / Fenomena Daratan Baru Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi

Fenomena Daratan Baru Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi

Redaksintb.com – Kemunculan daratan baru berbentuk pulau-pulau kecil di kawasan perairan Selat Sunda, tak jauh dari Gunung Anak Krakatau, menjadi sorotan publik. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi fenomena geologis tersebut sebagai dampak dari aktivitas erupsi menerus yang terjadi baru-baru ini.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel yang dievaluasi oleh tim ahli, terdeteksi adanya penambahan luasan daratan secara signifikan pada tubuh Gunung Anak Krakatau. Penambahan ini mendominasi sektor barat laut hingga barat daya pulau gunung api tersebut akibat akumulasi endapan material vulkanik.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, SS Rita Susilawati, mengungkapkan bahwa proses akumulasi material piroklastik dan aliran lava dari erupsi beruntun pada 4–6 September telah memperluas struktur daratan utama. Dari hasil perhitungan awal, area daratan yang bertambah tercatat mencapai 32,8 hektare.

Selain pembesaran pada struktur utama gunung, pengamatan satelit juga menangkap keberadaan dua gumuk daratan baru di sisi barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau. Pembentukan gumuk yang menyerupai pulau kecil tersebut disinyalir memiliki keterkaitan erat dengan erupsi dahsyat yang berlangsung nonstop selama hampir 25 jam.

Secara ilmiah, Badan Geologi menyampaikan dugaan atau interpretasi sementara terkait mekanisme terbentuknya daratan terpisah tersebut. Magma yang bersifat encer diperkirakan keluar menembus permukaan laut melalui jalur retakan atau bukaan geologis yang membentang dari arah barat laut menuju tenggara.

Isi Percakapan 3 Masinis dengan Petugas Kendali Sebelum KA Anggrek Tabrak KR

Aliran magma dan pengendapan material piroklastik yang keluar melalui bukaan memanjang tersebut kemudian menumpuk di dasar laut dangkal hingga akhirnya menyembul ke permukaan. Tumpukan material inilah yang kemudian terlihat dari luar menyerupai dua pulau baru terpisah di sekitarnya.

Kendati demikian, pihak Badan Geologi menegaskan bahwa temuan lewat citra satelit ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Tim peneliti akan melakukan pencocokan data pemetaan citra sebelum dan sesudah erupsi, yang nantinya akan disempurnakan melalui cek fisik dan verifikasi langsung di lapangan.

Menanggapi fenomena unik ini, Badan Geologi mengimbau warga sekitar dan para nelayan untuk tetap tenang namun waspada. Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada status Level II (Waspada) dengan zona bahaya radius 2 kilometer dari kawah utama, serta imbauan khusus untuk tidak mendekati area dua gumuk baru dalam jarak 1 kilometer.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *