Redaksintb.com — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat strategi pemikatan investasi dengan menyiapkan berbagai proyek daerah agar benar-benar matang dan siap ditawarkan kepada para investor global maupun nasional. Langkah konkret ini diwujudkan melalui ajang Incubator Sasambo Investment Challenge (SIC) 2026 yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB.
Dari total 19 proposal proyek yang masuk, sebanyak tujuh proyek terbaik berhasil lolos dan terpilih untuk mengikuti tahap inkubasi intensif. Seluruh proyek unggulan tersebut akan diperkuat secara komprehensif, mulai dari pembenahan legalitas, penyusunan perencanaan bisnis, hingga pengujian kelayakan finansial guna memenuhi kriteria ketat Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Andhi Wahyu Riyadno, menegaskan pentingnya program ini mengingat investasi memiliki efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar bagi roda perekonomian daerah. “Investasi tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi daerah,” jelasnya saat membuka rangkaian kegiatan tersebut.
Adapun tujuh proyek strategis yang masuk dalam tahap inkubasi ini tersebar di wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa. Daftar proyek tersebut meliputi Kawasan Industri Pengolahan Pangan Terpadu serta Integrated Cold Storage Facility di Kabupaten Bima, peternakan Sumbawa Beef di Kabupaten Sumbawa, hingga Plaza Hybrid Kota Bima Mantika. Selain itu, ada pula Penataan Kawasan Industrial Estate Sumbawa Barat, budi daya udang vaname di Kabupaten Dompu, serta destinasi wisata Buwun Mas Eco Adventure & Savana Cliff Destination di Kabupaten Lombok Barat.
Sementara itu, Perwakilan Bank Indonesia Pusat, Hasianto Ginsar Malik, menekankan bahwasanya investasi yang berkualitas membutuhkan sinergi kuat dan integrasi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga jejaring internasional. Upaya penguatan promosi investasi ini nantinya akan terus didorong melalui berbagai forum strategis tingkat global, seperti ajang Indonesia Japan Investment Forum dan ajang promosi internasional lainnya.
Dukungan terhadap langkah ini juga disampaikan oleh Perwakilan Bappenas RI, Fajar Hadi Pratama, yang mendorong agar setiap proyek daerah memiliki keterikatan langsung dengan agenda pembangunan nasional. Menurutnya, pengembangan investasi di daerah harus senantiasa sejalan dengan prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan, energi dan air, hilirisasi industri, penyediaan infrastruktur, hingga penguatan ekonomi kerakyatan.
Dari sudut pandang regulasi dan fasilitasi, Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Cahyo Purnomo, memaparkan krusialnya pemetaan potensi daerah menjadi proyek konkret berskema IPRO. Salah satu kawasan yang dinilai memiliki prospek sangat besar adalah Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora (Samota) yang berpeluang dikembangkan untuk pariwisata maritim, peningkatan konektivitas, serta pusat distribusi komoditas peternakan Pulau Sumbawa.
Melalui penyelenggaraan SIC 2026 ini, Provinsi NTB tidak sekadar berupaya memperbanyak daftar peluang investasi di atas kertas. Lebih jauh dari itu, pemerintah daerah bersama Bank Indonesia ingin memastikan bahwa setiap proyek yang ditawarkan kepada investor memiliki kepastian legalitas, kesiapan matang, serta prospek bisnis yang jelas dan berkelanjutan.


Komentar