Berita Nasional
Beranda / Nasional / Misteri Muka Air Laut Selat Sunda: Sensor BRIN Tangkap Anomali di Sekitar Gunung Anak Krakatau

Misteri Muka Air Laut Selat Sunda: Sensor BRIN Tangkap Anomali di Sekitar Gunung Anak Krakatau

Redaksintb.com – Perangkat pemantau muka air laut milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi adanya fenomena tidak biasa di kawasan perairan kompleks Gunung Anak Krakatau. Sistem deteksi dini tersebut merekam grafik anomali pada perubahan Muka Air Laut (MAL) yang dinilai tidak mengikuti pola alamiah pasang-surut air laut pada umumnya.

Pengamatan mengenai fenomena tersebut terungkap dalam sebuah seminar ilmiah daring yang membahas dinamika vulkanis dan sistem pemantauan tsunami di Selat Sunda pada Senin (14/9/2026). Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr. Semeidi Husrin, memaparkan temuan grafik tidak lazim yang pertama kali terekam oleh instrumen pemantau pada 7 September 2026 tersebut.

Dalam kondisi normal, pergerakan grafik pasang-surut air laut selalu membentuk pola kurva sinusoidal yang simetris dan teratur. Namun, data yang ditangkap oleh sensor di sekitar Gunung Anak Krakatau justru menunjukkan bagian puncak gelombang yang mendatar (flat), mengindikasikan adanya tekanan atau gangguan eksternal yang belum dapat teridentifikasi secara pasti.

Awalnya, tim peneliti mengasumsikan bahwa gangguan grafik tersebut dipicu oleh faktor lokal di sekitar area penempatan sensor di Pulau Rakata. Dugaan awal mengarah pada lalu lalang kapal melintas, hempasan material mengapung, hingga semburan gas bawah laut di dekat titik pemantauan.

Namun, dugaan faktor lokal tersebut terpatahkan setelah tim melakukan verifikasi silang dengan instrumen pemantau di lokasi lain. Grafik serupa rupanya juga terekam pada instrumen pemantau yang ditempatkan di Pulau Sebesi, yang berjarak cukup jauh dari Pulau Rakata. Kesamaan pola data di dua lokasi berbeda ini mengindikasikan bahwa fenomena anomali tersebut berskala kawasan dan bukan sekadar gangguan sensor lokal.

Isi Percakapan 3 Masinis dengan Petugas Kendali Sebelum KA Anggrek Tabrak KR

Kendati berhasil mengidentifikasi anomali data tersebut, pihak BRIN menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah merupakan sinyal bahaya tsunami. Perangkat Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang dipasang BRIN dipastikan terus memantau dinamika Selat Sunda secara real-time selama 24 jam penuh tanpa henti.

Mengingat informasi spekulatif yang kerap beredar cepat di tengah masyarakat, BRIN mengimbau publik untuk tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu liar mengenai ancaman gelombang tinggi atau tsunami. Data grafik dari sistem PUMMA dapat diakses secara terbuka dan gratis oleh publik maupun kalangan akademisi untuk kebutuhan analisis dan validasi ilmiah.

Temuan anomali ini mempertegas pentingnya keberadaan sistem pemantauan muka air laut yang presisi di sekitar gunung api aktif sub-laut. Meski tidak selalu berpotensi memicu bencana langsung, anomali data semacam ini menjadi variabel penting bagi para peneliti untuk terus membedah dinamika geologi serta sifat alam di kawasan Selat Sunda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *