Redaksintb.com – Korban jiwa akibat bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga pukul 17.00 WITA, Senin (17/8), sebanyak 68 orang dilaporkan meninggal dunia dan 213 lainnya mengalami luka-luka. Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa korban tersebar di tujuh kabupaten terdampak di Pulau Flores, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai (26 jiwa) dan Manggarai Timur (24 jiwa).
Di tengah proses pencarian dan evakuasi yang terus berjalan, tim gabungan Basarnas disiagakan penuh untuk mengantisipasi kemungkinan korban yang belum ditemukan. BNPB mencatat aktivitas tektonik di wilayah Flores masih sangat aktif, dengan 1.576 kali gempa susulan yang tercatat hingga Senin sore dan magnitudo maksimum mencapai 6,21. Pemutakhiran data serta penyisiran terus dilakukan mengingat guncangan susulan masih berpotensi memperburuk kondisi bangunan yang rapuh.
Dampak gempa juga melumpuhkan sektor pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, meliputi Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat setidaknya 253 fasilitas sekolah rusak, terdiri atas 199 satuan pendidikan PAUD/TK hingga SMP/SKB, serta 54 gedung SMA/SMK/SLB. Manggarai Timur menjadi wilayah terparah dengan 104 sekolah terdampak, di mana musibah ini juga merenggut nyawa dua murid dan seorang guru.
Menanggapi krisis pendidikan di lokasi bencana, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan komitmennya untuk mengawal proses pemulihan bersama pemerintah daerah setempat. Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama, sehingga pihak sekolah diizinkan memindahkan kegiatan belajar ke ruang aman, menggunakan tenda darurat, atau meliburkan aktivitas pembelajaran sesuai situasi lapangan. Komunikasi intensif terus dilakukan dengan Gubernur NTT agar penyaluran bantuan sarana belajar berjalan tepat sasaran.
Sebagai langkah darurat, Kemendikdasmen mengerahkan 50 tenda ruang kelas darurat yang dikirim melalui dua klaster ekspedisi armada kapal laut menuju Labuan Bajo dan Ende. Selain tenda kelas, pemerintah juga menyalurkan Family Kit, School Kit, layanan dukungan psikososial dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), serta memasang perangkat internet Starlink untuk menanggulangi gangguan jaringan komunikasi di lokasi terdampak.
Dari sisi pendanaan emergency, Pemerintah Pusat memastikan ketersediaan anggaran yang memadai untuk fase penanganan darurat hingga rehabilitasi pascabencana. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan dana siaga bencana sekitar Rp5 triliun. Penanganan awal saat ini telah mengoptimalkan Dana Siap Pakai (DSP) yang ada di BNPB sebesar Rp500 miliar, dengan jaminan penambahan anggaran jika kebutuhan di lapangan meningkat.
Sementara itu, kekhawatiran terkait potensi bahaya sekunder fasilitas teknis di area gempa langsung direspon oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Bapeten melakukan pemantauan ketat terhadap 14 fasilitas pemanfaatan radiasi pengion yang tersebar di delapan kabupaten terdampak gempa dari total 51 fasilitas yang ada di NTT. Langkah penanganan ini diambil guna memastikan keamanan infrastruktur krusial di tengah ancaman gempa susulan.
Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Ishak, memastikan dari hasil koordinasi sementara tidak ditemukan dampak kerusakan pada keselamatan dan keamanan sumber radiasi pengion. Hasil pemantauan juga menunjukkan tidak ada kenaikan paparan radiasi di wilayah NTT pascagempa. Meski dinyatakan aman, Bapeten menegaskan akan tetap melakukan pengawasan secara berkala untuk menjamin keselamatan masyarakat di sekitar lokasi fasilitas.


Komentar