Berita Internasional
Beranda / Internasional / Arab Saudi Punya Sistem Pertahanan Canggih, Mengapa Rudal Houthi Masih Bisa Tembus?

Arab Saudi Punya Sistem Pertahanan Canggih, Mengapa Rudal Houthi Masih Bisa Tembus?

Redaksintb.com – Keberhasilan milisi Houthi meluncurkan serangan rudal dan drone yang berhasil menembus ruang udara serta menghantam target strategis di Arab Saudi memicu pertanyaan besar dari para pengamat militer dunia. Pasalnya, Kerajaan Arab Saudi dikenal memiliki salah satu sistem pertahanan udara paling canggih dan termahal di dunia, termasuk alutsista Patriot buatan Amerika Serikat.

Penembusan benteng pertahanan udara tersebut menjadi sorotan tajam setelah serangan teranyar Houthi memicu gangguan signifikan di sekitar kawasan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Berbagai pihak mempertanyakan efektivitas dan celah teknis dari sistem pertahanan udara bernilai miliaran dolar yang diandalkan oleh otoritas militer Kerajaan.

Sejumlah pakar strategi pertahanan militer menilai bahwa taktik yang digunakan oleh kelompok Houthi semakin berkembang dan canggih secara terstruktur. Houthi sering menerapkan strategi serangan kombinasi (saturation attack) dengan meluncurkan puluhan drone nirawak murah secara bersamaan dengan rudal balistik guna mengacaukan dan menjenuhkan sistem radar pertahanan.

Penggunaan taktik serangan massal berbiaya rendah tersebut terbukti efektif menyulitkan radar pelacak untuk membedakan target prioritas dalam hitungan detik. Selain itu, drone buatan Houthi kerap terbang pada ketinggian sangat rendah (low-altitude) guna memanfaatkan celah titik buta (blind spot) radar pertahanan udara konvensional.

Faktor perbandingan efisiensi biaya (cost-efficiency) juga menjadi tantangan tersendiri bagi militer Arab Saudi. Menembakkan rudal pencegat Patriot yang berharga jutaan dolar untuk menjatuhkan drone kamikaze buatan Houthi yang berharga murah dianggap menciptakan ketimpangan pasokan amunisi pertahanan dalam jangka panjang.

Sopir Taksi Online Tewas Terkubur di Sumedang, Dibunuh Gegara Utang Rp 2,5 Juta

Di samping faktor taktik teknis di udara, tantangan kondisi geografi kawasan Semenanjung Arab yang sangat luas memberikan kerentanan tersendiri. Garis pantai dan wilayah perbatasan darat yang membentang luas menyulitkan cakupan radar pertahanan udara untuk mengover seluruh jengkal wilayah secara sempurna selama 24 jam penuh.

Para analis menyimpulkan bahwa insiden bobolnya sistem pertahanan ini membuktikan bahwa keberadaan alutsista canggih kelas dunia tidak menjadi jaminan mutlak atas perlindungan ruang udara secara 100 persen terhadap ancaman perang asimetris (asymmetric warfare) modern.

Atas celah keamanan tersebut, militer Arab Saudi bersama sekutu internasionalnya kini didesak untuk segera mengevaluasi dan memperbarui doktrin pertahanan udara mereka. Pengintegrasian teknologi penginderaan baru yang mampu mendeteksi drone berukuran kecil menjadi kebutuhan mendesak guna meminimalkan risiko serangan susulan di masa depan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *