Anjloknya harga telur ayam petelur membuat para peternak mandiri di berbagai daerah berada dalam kondisi semakin tertekan. Di tingkat peternak, harga telur menyusut hingga berkisar Rp 19.000–Rp 20.000 per kilogram, berada jauh di bawah HPP atau biaya produksi yang mencapai sekitar Rp 24.500 per kilogram. Di saat bersamaan, beban peternak kian berat karena harga pakan pabrikan masih bertahan tinggi di kisaran Rp 7.600–Rp 8.000 per kilogram.
Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Suwardi, mengeluhkan kondisi tersebut karena membuat para peternak kewalahan membeli pakan. Hal senada disampaikan Ketua Koperasi Peternak Batang, Joko Pramono, yang menyebut harga telur sudah berada di bawah biaya produksi selama empat bulan terakhir. Dampaknya, peternak menanggung kerugian hingga Rp 7.000 per kilogram dan berisiko gulung tikar jika tak ada penanganan segera.
Kondisi kritis ini memicu gelombang aksi protes di daerah. Di Magelang, ratusan peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Magelang (P3M) menggelar unjuk rasa di Alun-Alun Kota Magelang pada Senin (10/8/2026) dengan membagikan 1.300 ekor ayam secara gratis. Koordinator P3M, Yudha Mandala, mendesak pemerintah agar membatasi dominasi integrator besar, memperpanjang subsidi pakan, serta memperluas penyerapan telur lewat program pangan nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tekanan serupa dialami peternak skala kecil di Yogyakarta, seperti Kelompok Tani Winongo Asri Wirobrajan. Sekretaris kelompok, Herwulan, mengungkapkan bahwa dengan populasi 563 ekor ayam, biaya pakan mencapai Rp 15,5 juta per bulan dari total pendapatan Rp 19 juta per bulan. Marjin tipis itu masih harus menutupi operasional kandang, vitamin, hingga tenaga kerja, yang memaksa mereka menurunkan harga jual telur probiotik menjadi Rp 23.000 per kilogram pada Agustus ini.
Berbeda dari Jawa Tengah dan DIY, harga telur di Jawa Timur mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Di Pasar Wage, Nganjuk, harga telur ayam ras yang sempat terpuruk di angka Rp 19.000 per kilogram kini berangsur merangkak naik ke kisaran Rp 22.500 per kilogram dalam lima hari terakhir. Kendati demikian, kenaikan tipis ini masih terus dipantau agar mampu menutup biaya operasional peternak setempat secara berkelanjutan.
Sementara itu, peternak di Sulawesi Selatan terus mendesak pemerintah bertindak tegas. Basuki Suyuti, peternak asal Maros, meminta pemerintah menurunkan harga pakan, menjamin pasokan jagung sesuai HAP, menstabilkan pasokan day-old chick (DOC), serta menegakkan aturan pembagian porsi peternakan. Peternak menuntut agar porsi peternakan rakyat dipertahankan sebesar 98 persen dan membatasi dominasi perusahaan integrator hanya 2 persen sesuai regulasi Kementerian Pertanian.


Komentar