Redaksintb.com – Kembali meningkatnya eskalasi serangan militer di Semenanjung Arab termasuk insiden serangan kelompok Houthi ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh membuat publik kembali menyoroti akar sejarah perseteruan antara Houthi di Yaman dengan Kerajaan Arab Saudi. Konflik berkepanjangan ini berakar dari perselisihan politik dan keagamaan internal Yaman yang bertransformasi menjadi perang proksi regional.
Gerakan Houthi, yang memiliki nama resmi Ansar Allah, berawal dari gerakan kebangkitan sosial dan keagamaan pengikut Syiah Zaidiyah di wilayah pegunungan Saada, Yaman Utara, pada dekade 1990-an. Dipimpin oleh Hussein Badreddin al-Houthi, gerakan ini awalnya menyuarakan keprihatinan atas marginalisasi ekonomi wilayah utara serta pengaruh ideologi keagamaan asing yang disokong oleh negara tetangga, Arab Saudi.
Ketegangan berkembang menjadi bentrokan bersenjata terbuka melawan pemerintah Yaman pimpinan Presiden Ali Abdullah Saleh pada pertengahan tahun 2004. Pertempuran berkala antara milisi Houthi dan pasukan pemerintah Yaman terjadi selama bertahun-tahun hingga tercapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada tahun 2010.
Dinamika gelombang Arab Spring pada tahun 2011 menjadi titik balik besar peta politik Yaman. Tuntutan massa yang masif memaksa Presiden Ali Abdullah Saleh mundur dari jabatannya pada tahun 2012 dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abd-Rabbu Mansour Hadi, melalui proses transisi yang didukung oleh negara-negara Teluk.
Eskalasi krisis memuncak pada September 2014 ketika kelompok Houthi mengepung dan berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa. Pada awal tahun 2015, Houthi menduduki istana kepresidenan dan memaksa Presiden Mansour Hadi melarikan diri ke kota pelabuhan Aden di selatan, sebelum akhirnya mengungsi ke Riyadh, Arab Saudi, untuk mengendalikan pemerintahan dari pengasingan.
Melihat jatuhnya ibu kota Yaman ke tangan Houthi—yang dipandang memegang keterikatan politik dan mendapat dukungan persenjataan dari Iran—Arab Saudi menganggap perkembangan ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan batas wilayah perbatasannya. Pada Maret 2015, Arab Saudi membentuk dan memimpin Koalisi Militer Internasional untuk melancarkan operasi militer demi memulihkan pemerintahan legitimasi Yaman.
Sejak intervensi militer tersebut, perseteruan berubah menjadi perang terbuka. Selama bertahun-tahun, kelompok Houthi melancarkan serangan balasan menggunakan teknologi drone dan rudal balistik yang menyasar berbagai fasilitas vital dan infrastruktur penerbangan di dalam wilayah Arab Saudi.
Konflik segitiga antara kelompok Houthi, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan koalisi pimpinan Arab Saudi ini telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Meskipun upaya diplomasi dan kesepakatan gencatan senjata sempat diupayakan sejak 2022, dinamika politik regional serta isu keamanan jalur pelayaran membuat situasi ketegangan di kawasan ini masih sangat rentan memanas kembali.


Komentar